Masanya itu datang juga,
suatu titik dimana aku harus memahami dan merenungi. Suatu masa yang
ketika diri ini tersadar akan tertidurnya perasaannya selama ini.
Suatu masa yang menjadikan diri ini diam, tertunduk, dan berpikir
tentang apakah yang selama ini telah dia perbuat. Ketika itu datang
badan terasa ingin menendang jauh-jauh “sifat” itu yang
menggelayuti diri selama ini. Ketika itu datang tidak sedikit rasa
sesal yang keluar menyelimuti, tidak sedikit kesedihan yang hinggap
pada diri, tidak sedikit pula rasa ingin bertaubat kepada ilahi.
Itulah yang ku hadapi
wahai teman, detik demi detik yang berlalu, jam yang berganti dengan
jam, hari yang berganti dengan hari, tahun yang berganti silih
berganti, semakin bertambahnya masa semakin aku lupa akan apa
kesalahan dan dosa yang telah ku perbuat kepada orang lain. Semakin
bertambah tua bumi, semakin aku merasa bahwa setiap hari yang ku
lewati tiada pernah aku berkaca diri. Dosa demi dosa, kesalahan demi
kesalahan silih bertambah bukan silih berganti menumpuk pada diri
yang lemah ini. Dosa-dosa yang dihasilkan oleh lisan, oleh telinga,
oleh badan, oleh pendengaran, oleh penglihatan dan juga yang
ditimbulkan dari hati akan berujung pada harus bertanggungjawabnya
aku tentang mereka, karena Alloh berfirman :
“ ...
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra’ 36)
Wahai teman, isyarat dari
Alloh ini begitu berat pada diri ini, bahwa saya harus
bertanggungjawab atas anggota badan saya. Apalagi ditambah dosa-dosa
ini, yang semakin lama membuat dot – dot (noktah) hitam pada hati
yang akhirnya menutupi hati ini dari kebenaran,
dosa yang semakin menjauhkan diri ini dari ketaatan, dosa yang
semakin membuahkan dosa dan menelurkan dosa-dosa setelahnya. Alloh
berfirman :
“Sekali-kali
tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin 14)
Sungguh yang dimaksud
Roon adalah kumpulan titik hitam yang telah menutupi hati.
Maka bantulah saya wahai teman untuk menghilangkan roon ini dan
mempermudah pertanggungjawabanku.
Wahai teman, telah tinggi
pula gunung dosaku, semakin beranak pinak pula dosa-dosaku, telah
kotor jua badan ini, berlumurkan dosa kepada manusia berselimutkan
kedholiman pada diri dan kemaksiatan pada Alloh. Andainya ku bisa
menghancurkan gunung kotor dosaku itu, andainya bisa ku bersihkan
badan berlumuran lumpur dosa ini, tentunya akan ku lakukan sendiri.
Tapi apa daya teman, aku hanyalah manusia biasa, bukan seorang yang
sempurna, tentunya permohonan maaf dan penghalalan dosaku kepada
teman sekalian sangat aku butuhkan. Karena, hal itu adalah pembersih
yang kuat, itulah pengancur yang mampu meruntuhkan gunung dosaku
tadi, setelah datang pengampunan dari Alloh dan pertaubatanku
pada-Nya tentunya. Disini ingin ku melaksanakan treatment dari
Nabi –Sholallahu ‘alaihi wa sallam- yakni pada sabdanya : “Kullu
bani adama khotto’uun, wa khoiru khotto’iina at-tawaabuun”
, artinya : setiap anak keturunan adam (manusia) itu, pasti punya
kesalahan / dosa, dan sebaik-baik orang yang mempunyai dosa adalah
orang-orang yang mau bertaubat.
Telah jelas pada hadits
diatas, bahwa sudah menjadi tabiat manusia yakni selalu berbuat
kesalahan, akan tetapi tidak sepantasnya kita diam saja akan hal itu,
maka sudah sepatutnya saya bertaubat pada Alloh dan meminta
penghalalan dari teman-teman sekalian.
Wahai teman, tulisan ini,
entah apa yang mendorongku menuliskan ini, yang jelas alasannya bahwa
aku seperti nya banyak dosa kepada kalian semua. Teman-teman yang
dulunya pernah kusakiti dengan anggota badan, dengan pendengaranku
yang mendengar rahasia kalian, dengan perilakuku yang terkadang
menyebalkan, dengan banyaknya perkataanku yang meluncur menusuk hati,
dengan banyaknya sikap yang salah, banyaknya salah paham yang
terjadi, dengan banyaknya kealphaanku pada sebagian undangan, dengan
banyaknya kelalaian dan kelupaanku akan janjiku, dengan tatapan dan
mimik muka yang terkadang membuat kalian tersakiti, dengan banyaknya
kehadiranku yang tak membantu, dengan banyaknya segala kelalaian
amanah pada diriku. Perhatikanlah, pada hari ini sungguh dari lubuk
hati yang terdalam, dari dasar palung penyesalanku, aku memohon
dengan sangat pemaafan dari teman-teman akan dosa-dosaku. Maafkan aku
wahai teman, maafkan aku. Silakan ambil pembalasan kalian dariku. Aku
tidak ingin ketika bumi telah digulung nanti aku tidak bisa lagi
memohon maaf pada kalian.
Wahai teman, aku tersadar
akan sangat pentingnya engkau di hidupku, tidak ada warna pula hidup
ini bila tidak kudapatkan teman seperti engkau. Bantulah aku teman,
untuk memperbaiki diri, berilah saran, kritik ataupun masukan pada
diri ini, agar bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Terakhir,
wahai teman, aku juga ingin berpesan, jangan sampai pula engkau pada
suatu hari menuliskan hal yang sama denganku, karena kesalahan yang
sama.
Semoga Alloh selalu
memberkahi kehidupan kalian, mengampuni dosa kalian, mencukupkan
kebutuhan kalian, menjaga kalian dari kesedihan terhadap dunia,
semoga Alloh memasukkan kalian ke Jannah-nya.
Wallahul musta’an...
Pagi hari yang cerah pada
Juni, Hari kesembilan tahun 2012
Rajab, 19, 1433 H
Temanmu, Anindya
Sricandra Prasidya