Sabtu, 09 Juni 2012

Ku Titip Surat Ini Untukmu, Teman...

Bismillahirrohmanirrohiim.......
Masanya itu datang juga, suatu titik dimana aku harus memahami dan merenungi. Suatu masa yang ketika diri ini tersadar akan tertidurnya perasaannya selama ini. Suatu masa yang menjadikan diri ini diam, tertunduk, dan berpikir tentang apakah yang selama ini telah dia perbuat. Ketika itu datang badan terasa ingin menendang jauh-jauh “sifat” itu yang menggelayuti diri selama ini. Ketika itu datang tidak sedikit rasa sesal yang keluar menyelimuti, tidak sedikit kesedihan yang hinggap pada diri, tidak sedikit pula rasa ingin bertaubat kepada ilahi.
Itulah yang ku hadapi wahai teman, detik demi detik yang berlalu, jam yang berganti dengan jam, hari yang berganti dengan hari, tahun yang berganti silih berganti, semakin bertambahnya masa semakin aku lupa akan apa kesalahan dan dosa yang telah ku perbuat kepada orang lain. Semakin bertambah tua bumi, semakin aku merasa bahwa setiap hari yang ku lewati tiada pernah aku berkaca diri. Dosa demi dosa, kesalahan demi kesalahan silih bertambah bukan silih berganti menumpuk pada diri yang lemah ini. Dosa-dosa yang dihasilkan oleh lisan, oleh telinga, oleh badan, oleh pendengaran, oleh penglihatan dan juga yang ditimbulkan dari hati akan berujung pada harus bertanggungjawabnya aku tentang mereka, karena Alloh berfirman :

... Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Isra’ 36)
Wahai teman, isyarat dari Alloh ini begitu berat pada diri ini, bahwa saya harus bertanggungjawab atas anggota badan saya. Apalagi ditambah dosa-dosa ini, yang semakin lama membuat dot – dot (noktah) hitam pada hati yang akhirnya menutupi hati ini dari kebenaran, dosa yang semakin menjauhkan diri ini dari ketaatan, dosa yang semakin membuahkan dosa dan menelurkan dosa-dosa setelahnya. Alloh berfirman :

Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin 14)
Sungguh yang dimaksud Roon adalah kumpulan titik hitam yang telah menutupi hati. Maka bantulah saya wahai teman untuk menghilangkan roon ini dan mempermudah pertanggungjawabanku.
Wahai teman, telah tinggi pula gunung dosaku, semakin beranak pinak pula dosa-dosaku, telah kotor jua badan ini, berlumurkan dosa kepada manusia berselimutkan kedholiman pada diri dan kemaksiatan pada Alloh. Andainya ku bisa menghancurkan gunung kotor dosaku itu, andainya bisa ku bersihkan badan berlumuran lumpur dosa ini, tentunya akan ku lakukan sendiri. Tapi apa daya teman, aku hanyalah manusia biasa, bukan seorang yang sempurna, tentunya permohonan maaf dan penghalalan dosaku kepada teman sekalian sangat aku butuhkan. Karena, hal itu adalah pembersih yang kuat, itulah pengancur yang mampu meruntuhkan gunung dosaku tadi, setelah datang pengampunan dari Alloh dan pertaubatanku pada-Nya tentunya. Disini ingin ku melaksanakan treatment dari Nabi –Sholallahu ‘alaihi wa sallam- yakni pada sabdanya : “Kullu bani adama khotto’uun, wa khoiru khotto’iina at-tawaabuun” , artinya : setiap anak keturunan adam (manusia) itu, pasti punya kesalahan / dosa, dan sebaik-baik orang yang mempunyai dosa adalah orang-orang yang mau bertaubat.
Telah jelas pada hadits diatas, bahwa sudah menjadi tabiat manusia yakni selalu berbuat kesalahan, akan tetapi tidak sepantasnya kita diam saja akan hal itu, maka sudah sepatutnya saya bertaubat pada Alloh dan meminta penghalalan dari teman-teman sekalian.
Wahai teman, tulisan ini, entah apa yang mendorongku menuliskan ini, yang jelas alasannya bahwa aku seperti nya banyak dosa kepada kalian semua. Teman-teman yang dulunya pernah kusakiti dengan anggota badan, dengan pendengaranku yang mendengar rahasia kalian, dengan perilakuku yang terkadang menyebalkan, dengan banyaknya perkataanku yang meluncur menusuk hati, dengan banyaknya sikap yang salah, banyaknya salah paham yang terjadi, dengan banyaknya kealphaanku pada sebagian undangan, dengan banyaknya kelalaian dan kelupaanku akan janjiku, dengan tatapan dan mimik muka yang terkadang membuat kalian tersakiti, dengan banyaknya kehadiranku yang tak membantu, dengan banyaknya segala kelalaian amanah pada diriku. Perhatikanlah, pada hari ini sungguh dari lubuk hati yang terdalam, dari dasar palung penyesalanku, aku memohon dengan sangat pemaafan dari teman-teman akan dosa-dosaku. Maafkan aku wahai teman, maafkan aku. Silakan ambil pembalasan kalian dariku. Aku tidak ingin ketika bumi telah digulung nanti aku tidak bisa lagi memohon maaf pada kalian.
Wahai teman, aku tersadar akan sangat pentingnya engkau di hidupku, tidak ada warna pula hidup ini bila tidak kudapatkan teman seperti engkau. Bantulah aku teman, untuk memperbaiki diri, berilah saran, kritik ataupun masukan pada diri ini, agar bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Terakhir, wahai teman, aku juga ingin berpesan, jangan sampai pula engkau pada suatu hari menuliskan hal yang sama denganku, karena kesalahan yang sama.
Semoga Alloh selalu memberkahi kehidupan kalian, mengampuni dosa kalian, mencukupkan kebutuhan kalian, menjaga kalian dari kesedihan terhadap dunia, semoga Alloh memasukkan kalian ke Jannah-nya.
Wallahul musta’an...
Pagi hari yang cerah pada Juni, Hari kesembilan tahun 2012
Rajab, 19, 1433 H
Temanmu, Anindya Sricandra Prasidya